Posted by: dwiana | 15 Oktober 2009

Undang-Undang

Negeri ini punya wakil-wakil rakyat yang makin produktif saja sejak 1998. Semoga bukan sepertinya, atau tampak produktif. Karena wakil-wakil rakyat ini doyan merapat, doyan pula kumpul-kumpul, dan makanan minuman dalam daftar menu tersaji di atas meja makan ketika  merapat  dan kumpul-kumpul.

Bukan lagi Bina Graha yang menjadi ruang kerja, tetapi sejumlah restoran dan hotel turut kecipratan jadi ruang kerja. Tidak mungkinlah warung kaki lima bakal kecipratan, paling mungkin warung kaki lima kecipratan kena gusur.

Sebuah bagian dari komisi bicara pendidikan. Pasal dan ayat terlontar untuk kemudian diputuskan, tercipta secara berurutan. Semua hal tentang pendidikan disinggung. Sesuatu yang dianggap kurang kalau perlu ditambah-tambahi, karena makin banyak kata, duitnya jadi makin menggelembung. Tidak apa-apa kalau harus mengulang, karena untuk perbaikan pasal dan ayat itu bukan sesuatu yang cuma-cuma.

Kerja wakil-wakil rakyat ini bak penulis atau wartawan saja dalam satu hal, semakin banyak kata, duitnya jadi makin menggelembung. Tetapi penulis atau wartawan dalam setiap kata senantiasa dibayangi resiko dan konsukuensi. Beda dengan  wakil-wakil rakyat ini, setiap kata mengandung waktu, dan waktu berarti duit. Berarti atau tidaknya waktu yang dihabiskan juga tidak penting asalkan dapat terjual sebagai undang-undang.

Berlama-lama bergulat dengan waktu pada akhirnya tersusunlah undang-undang tentang pendidikan.  Undang-undang ini dapat disebut apapun, terserah mau dinamai apa yang penting menghasilkan sesuatu yang bertambah, terutama di sisi kredit rekening bank mereka.

Semua tentang pendidikan sudah disinggung, asalkan tidak membuat kaum berduit tersinggung.

Halaman demi halaman undang-undang dibolak-balik, memang semua disinggung, tetapi yang pertama dan terutama senantiasa dilupakan: filosofi.

Wakil-wakil rakyat ini bicara pendidikan dan menyinggungnya sehingga menjadi komditas bernama undang-undang. Tetapi lagi-lagi, wakil-wakil rakyat ini sebatas manusia-manusia yang suka menyinggung. Wakil-wakil rakyat ini tidak tahu tentang filosofi pendidikan, apa itu pendidikan. Tidak heran, pendidikan menghasilkan jutaan sarjana yang kelak menjadi pengangguran atau sejumlah besar generasi muda yang terjerembab dalam pusaran masalah pendidikan.

Kata-kata manis “Kuatkanlah imanmu dan tetap berjuang!” seperti gonggongan anjing penjaga rumah yang tidak menyaksikan orang asing atau maling. Tidak ada gunanya sekali anjing penjaga rumah menggonggong seandainya tidak ada orang asing atau maling.

Pada tanggal 17 Juli 2009 pagi hari saya membuat akun di blog detik.com dengan nama http://dwiana.blogdetik.com/ guna mengikuti detikcom yang menginjak usianya yang kesebelas.

Banner “My First Online experience” sebagai tanda keikutsertaan sudah saya pasang di blogdetik, namun masih juga belum muncul. Berkali-kali saya coba masukkan tetapi gagal.

Saya coba mengikuti cara pasang banner “My First Online Experience”( http://blogdetik.com/2008/02/23/cara-pasang-banner-say-it-with-blog-writing-contest/ ) seperti yang tertulis, dan men-cek setelah saya pasang banner karena pada petunjuk nomer 5, tertulis: “Cek apakah banner tersebut sudah muncul di menu sidebar Anda (kadang memerlukan beberapa saat)”.

Tetapi beberapa kali saya pasang banner gagal, setelah saya cek, saya juga menemukan perbedaan kode. Di dalam halaman “Ultah kesebelas, Blogdetik Bagi-bagi Netbook” ( http://blogdetik.com/2009/06/24/ultah-kesebelas-blogdetik-bagi-bagi-netbook/ ) berisi kode berikut:

<a title=”netbook dari blogdetik” target=”blank” href=”http://microsite.detik.com/detik-birthday-2009/”> <img height=”125″ width=”180″ src=”http://o.detik.com/images/wp/Banner_Hut_detikcom_180_125.gif”/></a>

sementara di “Cara Pasang Banner “My First Online Experience” ” ( http://blogdetik.com/2008/02/23/cara-pasang-banner-say-it-with-blog-writing-contest/ ) berisi kode berikut:

<a title=”netbook dari blogdetik” target=”blank” href=”http://microsite.detik.com/detik-birthday-2009/”> <img height=”125″ width=”180″ alt=”” src=”http://o.detik.com/images/wp/Banner_Hut_detikcom_180_125.gif”/></a>

Saya tidak tahu apa arti perbedaan kode tersebut dan apa pengaruhnya dalam pemasangan banner. Kemudian apa ini mempengaruhi penilaian ketika banner akan dipasangkan tetapi berisi kode salah yang dimasukkan?

Mungkin kita melihat dan memanti saja karena saya sendiri orang awa

Beribu terimakasih kalau ada yang dapat memberitahukan perbedaan kode tersebut.

Posted by: dwiana | 17 Juli 2009

Dunia Yang Diperkenalkan Beliau Kepadaku

Aku ingat ketika tahun 1996-an, mendengar yang namanya internet. Sering mendengar tetapi tidak mengenalnya. Saat itu aku masih di SMA.

Saat itu aku mendengar bahwa untuk menelusuri dunia maya bernama internet dibutuhkan komputer canggih. Maklum saja, aku orang yang tidak mengerti komputer. Tahun 1996-an aja aku masih mengetik memakai program DOS. Tidak mengenal program komputer canggih yang menggunakan windows.

Ketika tahun 1998, aku masuk universitas, mengambil fakultas psikologi. Di bangku kuliah dengan segala kegagapan aku mau tidak mau harus menyentuh komputer. Aku bingung menghadapi barang canggih itu bernama komputer. Aku mengalami cultural shock, bingung dengan barang canggih, tidak tahu cara menggunakannya.

Barang canggih bernama komputer itu begitu mahal, tidak familiar bagiku.

Komputer saja tidak kenal, apalagi berharap dapat menelusuri dunia maya bernama internet.

Tetapi untunglah, banyak mahasiswa satu angkatan di 1998 itu tidak sedikit yang tidak familiar dengan internet. Ini rupanya menjadi perhatian seorang dosen kami sehingga setelah kuliah dosen kami mengajak kami untuk menuju work station yang disediakan universitas, di situ ada perangkat komputer dengan printer yang dilengkapi dengan jaringan internet. Tetapi aku tidak bisa mengikuti kesempatan tersebut, karena untuk memakai fasilitas tersebut harus antri. Setiap mahasiswa baru tersedia jatah internet gratis di work station selama 4 jam dengan menggunakan sistem kartu, untuk memakai work station harus membawa kartu.

Ketika dosen kami mengajak kami untuk menuju work station dan mengenal internet, aku justru tidak dapat ikut, karena tidak membawa kartu. Jadi aku pulang saja dan melupakan kesempatan mengenal internet ketika itu. Lagian ongkos internet ketika itu masih terasa mahal.

Tetapi untunglah aku dekat dengan salah seorang dosen muda, beliau perempuan. Seorang dosen favorit di kelasku, dan kami di kelas biasa memanggilnya “mbak”. Aku sering ngobrol dengan beliau karena beliau adalah dosen yang memang menyediakan waktu untuk konseling dengan mahasiswa. Di salah satu kesempatan aku minta tolong kepada beliau, “Internet itu apa ya? Bagimana caranya buat email?”

Beliau spontan saja mengajakku ke work station, mengajariku menelusuri dunia maya bernama internet dan membuatkanku email. Email pertama kaliku yang kumiliki dibuatkan dosenku. Akupun memakai internet tanpa kartu, tetapi memakai jatah dosen.

Selanjutnya kemudian aku menelusuri sendiri dunia maya bernama internet ini. Awalnya aku belum tahu banyak yang kucari di situ selain masuk Yahoo dan mencari group band musik heavy metal.

Selanjutnya aku mulai banyak kenal tidak saja dengan internet, tetapi berkontak dengan orang-orang dari dunia maya melalui situs-situs sahabat pena. Aku berkontak dengan banyak orang pelbagai belahan dunia, dan aku menceritakan hal ini ke dosen favoritku tentang banyak hal yang kutemukan di dunia maya bernama internet.

Sudah lama aku tidak berjumpa dengan dosen favorit kami tersebut, tetapi kebaikannya membekas di ingatanku. Masih teringat olehku, sebuah buku mengenai internet beliau berikan kepadaku.

Terimakasihku buat beliau.

Categories