Negeri ini punya wakil-wakil rakyat yang makin produktif saja sejak 1998. Semoga bukan sepertinya, atau tampak produktif. Karena wakil-wakil rakyat ini doyan merapat, doyan pula kumpul-kumpul, dan makanan minuman dalam daftar menu tersaji di atas meja makan ketika merapat dan kumpul-kumpul.
Bukan lagi Bina Graha yang menjadi ruang kerja, tetapi sejumlah restoran dan hotel turut kecipratan jadi ruang kerja. Tidak mungkinlah warung kaki lima bakal kecipratan, paling mungkin warung kaki lima kecipratan kena gusur.
Sebuah bagian dari komisi bicara pendidikan. Pasal dan ayat terlontar untuk kemudian diputuskan, tercipta secara berurutan. Semua hal tentang pendidikan disinggung. Sesuatu yang dianggap kurang kalau perlu ditambah-tambahi, karena makin banyak kata, duitnya jadi makin menggelembung. Tidak apa-apa kalau harus mengulang, karena untuk perbaikan pasal dan ayat itu bukan sesuatu yang cuma-cuma.
Kerja wakil-wakil rakyat ini bak penulis atau wartawan saja dalam satu hal, semakin banyak kata, duitnya jadi makin menggelembung. Tetapi penulis atau wartawan dalam setiap kata senantiasa dibayangi resiko dan konsukuensi. Beda dengan wakil-wakil rakyat ini, setiap kata mengandung waktu, dan waktu berarti duit. Berarti atau tidaknya waktu yang dihabiskan juga tidak penting asalkan dapat terjual sebagai undang-undang.
Berlama-lama bergulat dengan waktu pada akhirnya tersusunlah undang-undang tentang pendidikan. Undang-undang ini dapat disebut apapun, terserah mau dinamai apa yang penting menghasilkan sesuatu yang bertambah, terutama di sisi kredit rekening bank mereka.
Semua tentang pendidikan sudah disinggung, asalkan tidak membuat kaum berduit tersinggung.
Halaman demi halaman undang-undang dibolak-balik, memang semua disinggung, tetapi yang pertama dan terutama senantiasa dilupakan: filosofi.
Wakil-wakil rakyat ini bicara pendidikan dan menyinggungnya sehingga menjadi komditas bernama undang-undang. Tetapi lagi-lagi, wakil-wakil rakyat ini sebatas manusia-manusia yang suka menyinggung. Wakil-wakil rakyat ini tidak tahu tentang filosofi pendidikan, apa itu pendidikan. Tidak heran, pendidikan menghasilkan jutaan sarjana yang kelak menjadi pengangguran atau sejumlah besar generasi muda yang terjerembab dalam pusaran masalah pendidikan.
Kata-kata manis “Kuatkanlah imanmu dan tetap berjuang!” seperti gonggongan anjing penjaga rumah yang tidak menyaksikan orang asing atau maling. Tidak ada gunanya sekali anjing penjaga rumah menggonggong seandainya tidak ada orang asing atau maling.
